Bismillah, Dikatakan
dalam sebuah syair, “Barangsiapa
menginginkan nasihat, cukuplah kematian itu sebaai nasihat.” Sebuah nasihat
yang mengajak kita untuk merenung
tentang kematian sebagai peringatan. Sudahkah kita semua mempersiapkan diri
untuk menghadapinya? Selama ini kita merasa ngeri
ketika mendengarkan kalimat perihal
kematian, padahal kita sangat tahu bahwa kematian merupakan keniscayaan bagi
kehidupan, dengan kata lain kita harus ingat bahwa “ dia yang mempunyai awal, pasti punya akhir”.
Sebagai seorang hamba kita harus sadar bahwa
kita hidup ini untuk menghamba bukan untuk yang lain. Namun faktanya, kita
mudah terpesona dengan kilauan gemerlap kehidupan yang seolah menjanjikan. Kehidupan ini hanyalah sebuah pinjaman yang
besar, jika kita tak mampu mengembalikanya dengan baik, maka sudah pasti tahu
sebesar apa konsekuensi yang harus kita hadapi.
Sebagian besar dari kita
lebih memilih bunuh diri suicide dari
pada menghadapi kehidupan yang sangat kita takutkan. Berbagai problema seolah
membuat kita merasa down dan tidak
mampu untuk bangkit lagi. Padahal kita sudah banyak mendengar bahwa siksaan
dari bunuh diri sebelum hari akhir adalah, kita kan melakukan hal yang kita
perbuat saat bunuh diri tersebut berkali-kali tidak akan berhenti sebelum Alloh
menghentikanya. Betapa beratnya siksaan bunuh diri itu. Padahal kita harus tahu
bahwa suatu masalah-problem itu harus diahadapi bukan untuk dilari. Sebagaimana
Alloh firmankan pada surah al-baqarah 287:Laayukallifullaahu nafsan illa wus’ahaa,…….
yang terjemahannya sebagai berikut, ‘Allah tidak membebani seseorang kecuali yang sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti telah Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan maafkanlah kami, dan ampunilah kami serta kasihanilah kami, karena Engkau-lah Pelindung kami. Maka tolonglah kami terhadap kaum kafirin.’
kata ‘wus’aha’ (kemampuan) dipergunakan kepada manusia untuk menunjukkan keterbatasan manusia dan makhluq diptaanya yang lain.
Akan tetapi sebaliknya, jika akar kata yang sama tersebut – yakni, Wasi’ – (Yang Mahaluas Karunianya; Yang Maha Karib) dikenakan kepada Allah, maka artinya adalah kemampuan-Nya yang tak terbatas. Dia-lah Pemilik Segala Kekuatan. Ilmu-Nya Abadi, oleh karena itu tak tertandingi manusia. Allah tidak memberikan satu pun perintah yang tidak dapat dilaksanakan. Maka wajiblah manusia melaksanakan segala perintah Tuhan. Di dalam syariat Islam, semua perintah Allah sesuai dengan fitrah alami kemampuan manusia. Oleh karena itu tiap manusia akan ditanya pertanggung-jawaban mereka masing-masing. Al Qur’an menyatakan, sesuai dengan fitrat manusia, berbagai perintah Tuhan yang diberikan pun masih dalam batas kemampuan dan kelemahan manusia.
Dan manusia berusaha untuk mengerjakannya dengan sebaik-baiknya, namun tetap saja tak dapat membuatnya suci dengan sempurna; hal ini sesuai dengan Hadith, bahwa keberadaan Syaitan di dalam diri manusia ibarat darah yang mengalir di seluruh pembuluhnya.
Oleh karena itu, jika secara tak sengaja ia
melakukan perbuatan dosa, maka ia pun cepat-cepat bertaubat, memohon ampunan
Tuhan. Inilah yang membuat mereka menjadi shalih. Manusia hendaknya senantiasa
berusaha mengadakan inqilabi haqiqi (perubahan revolusi rohani) di dalam diri
masing-masing. Allah Al-Wasi, Yang Mahaluas karunia dan maghfirah-Nya niscaya
akan meraih mereka. Allah Taala akan mengampuni. Inilah maksud ajaran Al Qur’an
yang menuntut manusia untuk 'mati' sebelum mati.
Berikut manfaat dari permasalahan yang kita hadapi di setiap detiknya :
1.
Masalah akan membuat kita berkembang dan dewasa, kasrena sebuah permasalahan satu dengan yang
lain memerlukan dara yang berbeda-beda dalam menyelesaikanya.
2.
Masalah itu nikmat, tidak ada kehidupan yang
melulu,monoton, dan hanya itu itu saja, melainkan kehidupan ini dinamis,
bergerak setiap detiknya. Saat manusia dirundung masalah , ia akan mencoba
berbagai upaya dalam penyelesaianya sehingga manusia akan mengalami proses yang
sangat alami, yakni hidup dalam permasalahan dan usahanya untuk bangkit.
3.
Masalah itu membuat kita cerdas dan mawas diri,
sebagaimana peliknya sebuah permasalahan, maka kita yang mengalaminya pun akan
berfikir bagaiman cara mengatasi sebuah permasalahan tersebut, bagaimana dara
kita menghindari permasalahan tersebut, dan bagaimana agar sebuah permasalahan
tidak akan kita alami lagi.
4.
Masalah membuat kita lebih dekat dengan Rabb, karena
mayoritas bahkan sudah sangat pasti para galauer-galauer
akan sangan khusyuuu’ meminta hidayah solusi kepada Rabb-nya.
5.
Masalah kita akan memberikan kesempatan bagi kita untuk
introspeksi diri “haasibuu anfusakum
qobla antuhaasabuu” intropeksilah dirimu sebelum (orang lain)
meng-introspeksi mu.
Kita harus berani menjadi A-immah untuk diri kita
sendiri , jangan sampai kematian kita kita yang memaju-majukanya. Karena siksa
bunuh diri sudah pasti neraka.
KEMATIAN ITU MENGEJAR MANUSIA
Seandainya tidak ada kematian, maka
bagaimana kehidupan ini? Mungkin bumi akan meledak , karena sangat lelah dan
muak dengan kegiatan manusia yang setiap harinya berbuat fasik padanya. Kita ingat
bahwa kematian merupakan ujung kehidupan.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya
pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali
Imran:185].
Maut merupakan ketetapan Allah.
Seandainya ada seseorang yang selamat dari maut, niscaya manusia yang paling
mulia pun akan selamat. Namun maut merupakan Sunnah ketetapanNya atas seluruh
makhluk. Allah berfirman
Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). [Az Zumar:30].
TIDAK ADA MANUSIA YANG KEKAL DI
DUNIA INI.
Apa jadinya manusia bila hidup kekal
selamnaya?? Seberapa sombong yang akan ia miliki?? Tamsilan dari fir’aun yang
di uji dengan kenikmatan Alloh dengan tidak pernah merasakan sakit saja
sombongnya hingga ia mengaku sebagai Tuhan, sekutu Alloh SWT. Astaghfirulloh..
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun
sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan
keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada
Kamilah kamu dikembalikan. [Al Anbiya:34-35].
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu,
kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An Nisa’:78].
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari
daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu
akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata,
lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. [Al Jumu’ah:8].
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ
بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah
yang kamu selalu lari dari padanya. [Qaaf:19].
Kematian sebagai bukti nyata
kekuasaan Allah, dan siapapun tidak ada yang dapat mengalahkanNya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surah al-waqi’ah:
Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami
sekali-kali tidak dapat dikalahkan [Al Waqi’ah:60].
Allah menantang kepada orang-orang
yang menyangka bahwa mereka tidak dikuasai oleh Allah, dengan mengembalikan
nyawa orang yang sekarat, jika memang mereka benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
Maka mengapa ketika nyawa sampai di
kerongkongan. Padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya
daripada kamu.Tapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai
(oleh Allah). Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu
adalah orang-orang yang benar. [Al Waqi’ah:83-87].
Manusia tidak akan lepas dari ajal,
bahkan ajal itu meliputinya. Imam Bukhari telah meriwayatkan yang aretinya
Dari Abdullah, dia berkata: Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis segi empat, dan Beliau membuat
garis di tengahnya keluar darinya. Beliau membuat garis-garis kecil kepada
garis yang ada di tengah ini dari sampingnya yang berada di tengah. Beliau
bersabda,”Ini manusia, dan ini ajal yang mengelilinginya, atau telah
mengelilinginya. Yang keluar ini adalah angan-angannya. Dan garis-garis kecil
ini adalah musibah-musibah. Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya. Jika
ini luput darinya, ini pasti mengenainya.” [HR Bukhari, no. 5.938].
LUAR BIASANYA RASA SAKIT SAAT SAKARATUL MAUT
Sabda Rasulullah SAW: “Sakaratul
maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)
Sabda Rasulullah SAW: “Kematian
yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar
kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta
bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)
Atsar (pendapat) para
sahabat Rasulullah SAW;
Ka’b al-Ahbar
berpendapat: “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan
kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya
sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan
meninggalkan yang tersisa”.
Imam Ghozali
berpendapat: “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa
dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat
merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat
syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.
Imam Ghozali juga
mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati
sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari
pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan
izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria
yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia,” kata pria tersebut. “Apa
yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian,
namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang
dariku!”
Proses sakaratul maut
bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung
dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan
detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak
modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat
Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama
6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh
salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.
Rasa sakit sakaratul
maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini
tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kedzaliman seseorang selama ia
hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut
merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak.
Demikianlah rencana Allah.
Wallahu a’lam bis shawab.
Wallahu a’lam bis shawab.
SAKARATUL MAUT BAGI ORANG-ORANG LALIM
Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang dzalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.
Kisah ini menggambarkan
bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang
Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita,
kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia
dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut
baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.
Itulah wajah Malaikatul
Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah
wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak
akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup
kita.
"Alangkah
dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada)
dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya,
(sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan
siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah
(perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri
terhadap ayat-ayat-Nya." (QS Al-An’am 6:93)
"(Yaitu)
orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim
kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami
sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab):
“Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka
masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat
buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu." (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)
Di akhir sakaratul maut,
seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal.
Kepada orang dzalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu
balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir di tengah-tengah
perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa
kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang
baik!“ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua
malaikat itu.
Ketika sakaratul maut
hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar
dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya
rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun
diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat
kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.
Dan inilah ucapan
malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang dzalim di neraka, “Wahai
musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu
bila min dzalik!
SAKARATUL MAUT ORANG-ORANGYANG BERTAQWA
Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.
Dan dikatakan kepada
orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?”
Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat
baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung
akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang
bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya
sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka
kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa.
(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat
dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam
surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 :
30-31-32)
Dan saat terakhir
sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi
rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai
sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.
Wallahu a’lam
bish-shawab.
By :Nurul Ilmiyah 18 Oktober 2016 12.34

Tidak ada komentar:
Posting Komentar