Senin, 17 Oktober 2016

masalah dan kematian adalah nasihatku


Bismillah, Dikatakan dalam sebuah syair, “Barangsiapa menginginkan nasihat, cukuplah kematian itu sebaai nasihat.” Sebuah nasihat  yang mengajak kita untuk merenung tentang kematian sebagai peringatan. Sudahkah kita semua mempersiapkan diri untuk menghadapinya? Selama ini kita merasa ngeri  ketika mendengarkan kalimat perihal kematian, padahal kita sangat tahu bahwa kematian merupakan keniscayaan bagi kehidupan, dengan kata lain kita harus ingat bahwa “ dia yang mempunyai awal, pasti punya akhir”.
 Sebagai seorang hamba kita harus sadar bahwa kita hidup ini untuk menghamba bukan untuk yang lain. Namun faktanya, kita mudah terpesona dengan kilauan gemerlap kehidupan yang seolah menjanjikan.  Kehidupan ini hanyalah sebuah pinjaman yang besar, jika kita tak mampu mengembalikanya dengan baik, maka sudah pasti tahu sebesar apa konsekuensi yang harus kita hadapi.
            Sebagian besar dari kita lebih memilih bunuh diri suicide dari pada menghadapi kehidupan yang sangat kita takutkan. Berbagai problema seolah membuat kita merasa down dan tidak mampu untuk bangkit lagi. Padahal kita sudah banyak mendengar bahwa siksaan dari bunuh diri sebelum hari akhir adalah, kita kan melakukan hal yang kita perbuat saat bunuh diri tersebut berkali-kali tidak akan berhenti sebelum Alloh menghentikanya. Betapa beratnya siksaan bunuh diri itu. Padahal kita harus tahu bahwa suatu masalah-problem itu harus diahadapi bukan untuk dilari. Sebagaimana Alloh firmankan pada surah al-baqarah 287:
Laayukallifullaahu nafsan illa wus’ahaa,…….
yang terjemahannya sebagai berikut, ‘Allah tidak membebani seseorang kecuali yang sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti telah Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan maafkanlah kami, dan ampunilah kami serta kasihanilah kami, karena Engkau-lah Pelindung kami. Maka tolonglah kami terhadap kaum kafirin.’

kata ‘wus’aha’ (kemampuan) dipergunakan kepada manusia untuk menunjukkan keterbatasan manusia dan makhluq diptaanya yang lain.
Akan tetapi sebaliknya, jika akar kata yang sama tersebut – yakni, Wasi’ – (Yang Mahaluas Karunianya; Yang Maha Karib) dikenakan kepada Allah, maka artinya adalah kemampuan-Nya yang tak terbatas. Dia-lah Pemilik Segala Kekuatan. Ilmu-Nya Abadi, oleh karena itu tak tertandingi manusia. Allah tidak memberikan satu pun perintah yang tidak dapat dilaksanakan. Maka wajiblah manusia melaksanakan segala perintah Tuhan. Di dalam syariat Islam, semua perintah Allah sesuai dengan fitrah alami kemampuan manusia. Oleh karena itu tiap manusia akan ditanya pertanggung-jawaban mereka masing-masing. Al Qur’an menyatakan, sesuai dengan fitrat manusia, berbagai perintah Tuhan yang diberikan pun masih dalam batas kemampuan dan kelemahan manusia.
Dan manusia berusaha untuk mengerjakannya dengan sebaik-baiknya, namun tetap saja tak dapat membuatnya suci dengan sempurna; hal ini sesuai dengan Hadith, bahwa keberadaan Syaitan di dalam diri manusia ibarat darah yang mengalir di seluruh pembuluhnya.
Oleh karena itu, jika secara tak sengaja ia melakukan perbuatan dosa, maka ia pun cepat-cepat bertaubat, memohon ampunan Tuhan. Inilah yang membuat mereka menjadi shalih. Manusia hendaknya senantiasa berusaha mengadakan inqilabi haqiqi (perubahan revolusi rohani) di dalam diri masing-masing. Allah Al-Wasi, Yang Mahaluas karunia dan maghfirah-Nya niscaya akan meraih mereka. Allah Taala akan mengampuni. Inilah maksud ajaran Al Qur’an yang menuntut manusia untuk 'mati' sebelum mati.
Berikut manfaat dari permasalahan yang kita hadapi di setiap detiknya :
1.      Masalah akan membuat kita berkembang dan dewasa,  kasrena sebuah permasalahan satu dengan yang lain memerlukan dara yang berbeda-beda dalam menyelesaikanya.
2.      Masalah itu nikmat, tidak ada kehidupan yang melulu,monoton, dan hanya itu itu saja, melainkan kehidupan ini dinamis, bergerak setiap detiknya. Saat manusia dirundung masalah , ia akan mencoba berbagai upaya dalam penyelesaianya sehingga manusia akan mengalami proses yang sangat alami, yakni hidup dalam permasalahan dan usahanya untuk bangkit.
3.      Masalah itu membuat kita cerdas dan mawas diri, sebagaimana peliknya sebuah permasalahan, maka kita yang mengalaminya pun akan berfikir bagaiman cara mengatasi sebuah permasalahan tersebut, bagaimana dara kita menghindari permasalahan tersebut, dan bagaimana agar sebuah permasalahan tidak akan kita alami lagi.
4.      Masalah membuat kita lebih dekat dengan Rabb, karena mayoritas bahkan sudah sangat pasti para galauer-galauer akan sangan khusyuuu’ meminta hidayah solusi kepada Rabb-nya.
5.      Masalah kita akan memberikan kesempatan bagi kita untuk introspeksi diri “haasibuu anfusakum qobla antuhaasabuu” intropeksilah dirimu sebelum (orang lain) meng-introspeksi mu.
Kita harus berani menjadi A-immah untuk diri kita sendiri , jangan sampai kematian kita kita yang memaju-majukanya. Karena siksa bunuh diri sudah pasti neraka.
 KEMATIAN ITU MENGEJAR MANUSIA
Seandainya tidak ada kematian, maka bagaimana kehidupan ini? Mungkin bumi akan meledak , karena sangat lelah dan muak dengan kegiatan manusia yang setiap harinya berbuat fasik padanya. Kita ingat bahwa kematian merupakan ujung kehidupan.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran:185].
Maut merupakan ketetapan Allah. Seandainya ada seseorang yang selamat dari maut, niscaya manusia yang paling mulia pun akan selamat. Namun maut merupakan Sunnah ketetapanNya atas seluruh makhluk. Allah berfirman
Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). [Az Zumar:30].
TIDAK ADA MANUSIA YANG KEKAL DI DUNIA INI.
Apa jadinya manusia bila hidup kekal selamnaya?? Seberapa sombong yang akan ia miliki?? Tamsilan dari fir’aun yang di uji dengan kenikmatan Alloh dengan tidak pernah merasakan sakit saja sombongnya hingga ia mengaku sebagai Tuhan, sekutu Alloh SWT. Astaghfirulloh..
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [Al Anbiya:34-35].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An Nisa’:78].
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. [Al Jumu’ah:8].
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya. [Qaaf:19].
Kematian sebagai bukti nyata kekuasaan Allah, dan siapapun tidak ada yang dapat mengalahkanNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surah al-waqi’ah:
Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan [Al Waqi’ah:60].
Allah menantang kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka tidak dikuasai oleh Allah, dengan mengembalikan nyawa orang yang sekarat, jika memang mereka benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan. Padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.Tapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah). Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar. [Al Waqi’ah:83-87].
Manusia tidak akan lepas dari ajal, bahkan ajal itu meliputinya. Imam Bukhari telah meriwayatkan yang aretinya
Dari Abdullah, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis segi empat, dan Beliau membuat garis di tengahnya keluar darinya. Beliau membuat garis-garis kecil kepada garis yang ada di tengah ini dari sampingnya yang berada di tengah. Beliau bersabda,”Ini manusia, dan ini ajal yang mengelilinginya, atau telah mengelilinginya. Yang keluar ini adalah angan-angannya. Dan garis-garis kecil ini adalah musibah-musibah. Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya. Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya.” [HR Bukhari, no. 5.938].
LUAR BIASANYA  RASA SAKIT SAAT SAKARATUL MAUT
Sabda Rasulullah SAW: “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)
Sabda Rasulullah SAW: “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)
Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW;
Ka’b al-Ahbar berpendapat: “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.
Imam Ghozali berpendapat: “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.
Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia,” kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku!”
Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.
Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kedzaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah.
Wallahu a’lam bis shawab.

SAKARATUL MAUT BAGI ORANG-ORANG LALIM

Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang dzalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.
Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.
Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya." (QS Al-An’am 6:93)
"(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu." (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)
Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang dzalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir di tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik!“ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.
Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.
Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang dzalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!

SAKARATUL MAUT ORANG-ORANGYANG BERTAQWA

Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.
Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)
Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.
Wallahu a’lam bish-shawab.

By :Nurul Ilmiyah 18 Oktober 2016 12.34